sejarah pertanian perkembangan metode hidroponik

Membangun Greenhouse Fakultas IT PNJ

Soilless Gardening / hidroponik sebenarnya bukan teknologi pertanian yang baru ditemukan dalam sejarah pertanian. Beberapa bukti sejarah menunjukan bercocok tanam dengan sedikit tanah sudah dipraktikan pada peradaban kuno, seperti Taman Gantung Babylonia hingga kebun terapung bangsa Aztec.

Akan tetapi meski disebut soilless, bukan berarti nirsoil, atau sama sekali tanpa tanah. Senyawa dalam tanah tetap ada hanya saja dialih bentuk menjadi pekatan yang dilarut ke dalam air sebagai media tumbuh tanaman.

Awal Mula Sejarah Hidroponik

Pada mulanya bercocok tanam dengan sedikit tanah semakin berkembang setelah W. F. Gericke mempopulerkan istilah ‘hidroponik’ dalam bukunya yang terbit tahun 1940 berjudul ‘The Complete Guide to Soilless Gardening”. Hidroponik sendiri diperkenalkan melalui seminar Gericke sejak tahun 1929, yang berarti seni dan sains menumbuhkan tanaman dengan media air.

Bersanding dengan agrikultur ‘care of the field’ atau ‘merawat ladang’, hydro (air) dan ponos (daya) memiliki dasar teori bahwa semua faktor pada pertumbuhan tanaman (yang biasa disuplai oleh tanah) dapat direkayasa dengan sistem penyerapan nutrisi bermedia air. 

Perkembangan Metode Hidroponik

Pada saat itu perkembangan hidroponik telah melalui serangkaian ujicoba. Menurut Gericke, percobaan hidroponik mulanya agar pemanfaatan tanah bisa lebih baik untuk pertanian. Sejak tahun 1929, ketika teori hidroponik dipresentasikan, tujuan tersebut bergeser.

Model bercocok tanam tanpa tanah dikembangkan untuk meningkatkan hasil panen serta memanfaatkan lahan untuk bertani di daerah yang kurang subur. Tentunya biaya yang diperlukan per area bertani hidroponik lebih mahal dibanding pertanian konvensional. Meski begitu, uji coba pertanian hidroponik terbilang cukup diminati pada masa awal mula dikembangkannya metode ini.

Sebelum itu karya Ellis, Swaney dan Eastwood yang diterbitkan tahun 1963 merekam beberapa perusahaan swasta yang mulai melakukan pengembangan model pertanian hidroponik. Shell Oil Company misalnya, pada tahun 1944 menginisiasi sebuah kebun hidroponik di Pulau Curaçao, sebuah koloni Kerajaan Belanda di Hindia Barat (Kepulauan Karibia). Tujuan kebun itu tidak lain agar dapat memenuhi sayuran segar untuk pegawai mereka di negeri koloni.

Ketertarikan Shell terhadap hidroponik sebenarnya juga terinsiprasi dari model kebun hidroponik yang lebih dahulu dikembangkan Lago Oil and Transport Company, anak perusahaan dari Standard Oil Company of New Jersey, di Pulau Aruba yang berjarak 80 km sebelah barat daya Curaçao.

Hidroponik Pada Lahan Tandus

Pengembangan berskala lokal pada waktu yang berdekatan juga dilakukan di beberapa lokasi terpencil. Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) pernah mendirikan kebun hidroponik di Pulau Ascension dan di Iwo Jima. Dua pulau ini mempresentasikan kebun hidroponik sebagai solusi pertanian pada lanskap alam yang tandus. Eastwood mensyaratkan dua kondisi dan urgensi berhidroponik.

Pertama, berada di daerah yang tidak memungkinkan implementasi agrikultur, namun secara iklim masih menunjang produksi tanaman pertanian. Kedua, hidroponik dapat dikembangkan di dalam ‘greenhouse’ dengan teknik pertanian terukur sehingga dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pertanian. Dua syarat tersebut menjadi pertimbangan sekaligus potensi yang dapat kita lihat pada masa mendatang terhadap model pertanian hidroponik, baik untuk tujuan non-komersil, semi-komersil maupun industrialisasi produk hidroponik yang masih eksklusif.

Comments are closed.